link web lain

Minggu, 02 Oktober 2011

Tahajud Cinta


Sebelum memejamkan mata untuk tidur dalam rangka mengakhiri aktifitas 'dua puluh empat jam' ini, mari kita melihat dan merenungkan suasana tahajud kita masing-masing.

Apakah tahajud kita sebagai tahajudnya seorang hamba yang mencintai penciptanya, ataukah sekedar tahajud tanpa makna. Yang melakukan shalat hanya sekedarnya, setelah itu selesai dan bangga, karena sudah melaksanakan sebuah 'ritual' shalat tahajud. Untuk mengetahui hal itu, marilah kita mencoba mengukur diri masing-masing.

1. Tentang niat,

Apakah yang melatarbelakangi kita bangun malam ?
Apakah kita shalat tahajud karena terpaksa. Mungkin dikarenakan saudara kita, anak kita, istri / suami kita, atau ada orang dekat kita, yang bangun malam melakukan shalat tahajud. Dan kita pun ikut bangun malam lalu kita lakukan shalat tahajud itu.

Ataukah tiba-tiba kita ingin ke kamar mandi, lalu kita sekalian mengambil air wudhu' dan kitapun melaksanakan shalat tahajud.
Atau kita sebelum tidur sudah berdo'a kepada Allah, agar Allah membangunkan diri kita untuk melakukan shalat tahajud.

Apapun yang menyebabkan kita bangun malam, dan kita lanjutkan dengan shalat tahajud, maka semuanya merupakan perilaku istimewa di hadapan Allah SWT. Karena kita melakukan sesuatu yang memang istimewa.

Kalau kita hitung, pada saat di sepertiga malam menjelang pagi, sekitar jam tiga malam wib, kira-kira ada berapa orang yang bangun untuk melakukan shalat tahajud? Misalnya di sebuah kota? Atau di sebuah kampung? Sungguh amatlah sedikitnya!

Tetapi marilah kita melihat diri kita masing-masing! Dimanakah posisi kita? Apa yang menyebabkan kita melakukan shalat tahajud? Apakah demi kecintaan kita kepada Allah Swt, sehingga kita begitu rindunya ingin bertemu denganNya, ketika semua orang lelap dalam tidurnya? Ataukah karena alasan lainnya? Setiap posisi itu tentu mempunyai nilai yang berbeda...

2. Tentang pakaian,

Setelah kita melakukan wudhu' di waktu malam yang cukup dingin itu, ketika kita mengambil pakaian untuk melakukan shalat, apakah kita mengenakan pakaian yang seadanya saja, ataukah pakaian tidur saja. Ataukah kita mengenakan pakaian yang bagus, yang bersih, dan yang Allah menyenanginya.

Ketika suatu saat kita shalat tahajud, dan waktu itu pakaian yang kita kenakan adalah pakaian yang seadanya saja, maka bandingkanlah dengan ketika kita pergi ke masjid untuk melakukan shalat jum'at. Begitu indah pakaian kita, begitu harum tubuh kita...

Untuk siapa pakaian kita yang bagus dan indah itu? Kalau untuk Allah Swt, mengapa ketika shalat tahajud sendirian saat tidak ada orang yang melihatnya, kita justru mengenakan pakaian yang tidak indah? Seorang yang mencintai sesuatu, tentu ia akan memberikan yang terbaik buat si Dia...

3. Tentang bacaan dan gerakan,

Demikian juga tentang bacaan dan gerakan shalat yang kita lakukan di malam hari, ketika semua orang tidak ada yang mengetahuinya. Bagaimana kondisi kita?

Apakah bacaan kita begitu `mesra' saat kita bertemu dengan Dzat yang kita cintai, ataukah bacaan kita terburu-buru agar shalat cepat selesai?

Apakah gerakan shalat kita begitu sempurna layaknya seorang prajurit yang sedang berada di hadapan komandannya, ataukah gerakan kita semaunya saja?

Setelah kita mengembara mulai saat bangun pagi, selanjutnya melakukan perjalanan seharian di luar rumah, dan akhirnya kembali lagi ke rumah untuk tidur lagi, begitu seringnya kita bertemu dengan Allah Swt dalam berbagai macam peristiwa. Maka harapan kita tentulah saat ini kita telah menjadi seorang hamba yang begitu dekat dengan Allah Swt. Kecintaan dan kerinduan kepada Allah Swt akan tercermin dalam tahajud kita.

Tahajud cinta seorang hamba adalah tahajud kerinduan, bukan tahajud paksaan. Tahajud cinta seorang hamba adalah tahajud yang mencerminkan jiwa yang tenang, dan hati yang tentram,..

Itulah saat ending yang paling indah dalam hidup kita selama dua puluh empat jam setiap hari. Kalaulah ending hidup setiap hari, kita disuruh Rasul untuk dekat dengan Allah dalam tahajud, maka demikian pula dengan ending hidup seluruhnya, kitapun harus berupaya untuk dekat dengan Allah Swt.

Orang yang berhasil dalam hidupnya, adalah mereka yang pada akhir hayatnya dipanggil oleh Allah SWT, dengan panggilan yang sangat mesra :
"yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji'i ilaa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah, fad khulli fii tibaadii wad khulii jannatii.."
(Sigit Wahyu)

Inilah tanda cinta yang sebenar-benarnya cinta...
Cinta kepada Rabb, Cinta yang melebihi cinta kepada sesuatu yang berharga, Cinta yang tidak hanya diungkapkan dengan lisan, tapi cinta yang merasuki hati kita dengan implementasi kehidupan sehari-hari dan Cinta yang mudah-mudahan membawa kita ke Surganya Kelak, Aminnn....

Baca Selanjutnya....

Meraih Cinta

 "Apabila cinta Ilahi telah membara di relung hatimu, pastilah Dia telah mencintaimu. Tiada suara tepukan terdengar hanya dari sebelah tangan." Islam adalah agama cinta yang mengajarkan kasih sayang kepada manusia. Islam telah memerintahkan kita untuk berbagi kasih. Dalam Islam, cinta merupakan masalah utama dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini karena Islam sendiri merupakan agama yang berasaskan cinta. Oleh karena itu, Islam menyeru kepada; cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada agama, cinta kepada aqidah, juga cinta kepada sesama makhluk.

Cinta adalah tanda kehidupan ruhani dalam aqidah seorang mukmin. Cinta juga menjadi dasar dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Namun cinta yang dibenarkan Islam adalah cinta yang murni datang dari nurani dan pada hakikatnya merupakan pemberian dari Allah. Namun sayang, dalam kondisi saat ini, cinta yang lahir cenderung penuh hawa nafsu dan menyimpang daripada tujuan murni yang sebenarnya. Setiap hari, setiap saat kita dibuai dengan lagu cinta serta dibuat terlena dengan tontonan atau kisah cinta yang menghanyutkan kita ke dunia khayal dan merugikan. 

Islam adalah agama fitrah, karena itu Islam tidak membelenggu perasaan manusia. Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia. Karena itu kita diajarkan untuk menjaga perasaan cinta itu, merawat dan melindunginya dari segala kehinaan serta apa saja yang mengotorinya. 

Cinta dalam Islam adalah kaidah dan sistem yang mempunyai batas. Ia adalah petunjuk ke arah mendidik jiwa, membersihkan akhlaq, serta mencegah dan melindungi daripadanya dosa-dosa. Cinta dapat membimbing jiwa agar bersinar cemerlang, penuh dengan perasaan cinta, dan dicintai.

Dengan cinta yang seperti itu, maka akan membawa manusia ke surga seperti yang ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW, "Jalan menuju surga tergantung kepada iman, dan iman bergantung kepada cinta." Jelaslah bahwa cinta adalah syarat dalam iman, rukun dalam aqidah, dan asas dalam agama.

Perasaan cinta dan kasih sayang kepada sesama yang dilandasi karena Allah semata akan membawa pada ketenangan batin. Juga dengan cintalah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sehat, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan pemarah menjadi pemaaf.

Namun hati-hati juga, karena cinta dapat membuat orang sehat menjadi sakit, gemuk menjadi kurus, normal menjadi gila, kaya menjadi miskin, jika cinta itu dihiasi dengan kepalsuan, yakni cinta yang tidak dilandasi keimanan. Itulah para pecinta dunia, harta, dan wanita. Ia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni. Sebab itu, cinta yang harus diperjuangkan manusia adalah cinta Ilahi, sehingga Allah memberikan tanpa batas kasih dan sayangNya kepada kita.

Cinta Ilahi adalah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cintaNya dan manusia bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh pun akan kuat dalam beribadah atau juga ketika melangkah menggapai cita-cita yang tertinggi, yaitu syahid di jalanNya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah dan sering mengatakan cinta Rasulullah, tapi bagaimana semua itu tanpa ada bukti yang dipersembahkan kepada yang dicintainya itu. Sebagaimana Arjuna yang mengembara menyebrangi lautan yang luas dan mendaki puncak gunung yang tinggi dalam meraih cinta. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya masih dibayang-bayangi cinta yang lebih akan dunia.

Banyak orang yang mengaku cinta kepada Allah dan Allah hendak menguji cintanya. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada Sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakannya. Disaat Allah menguji cintanya, dengan memisahkan dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering tak bisa menerimanya. Disaat Allah memisahkan gadis dengan seorang calon suaminya, tak jarang gadis itu lemah dan terbaring sakit. Disaat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak bergairah dalam hidup. Disaat harta yang melimpah hangus terbakar, banyak orang yang hijrah ke rumah sakit jiwa.

Padahal, semua itu adalah bentuk ujian dari Allah karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba kepadaNya. Bila manusia sudah kuat dalam berbagai ujian rasa cinta kepadaNya, maka Allah akan mencurahkan kasih dan sayangNya tanpa batas dengan berbagai kenikmatan, baik di dunia ataupun di akhirat kelak.

Yakinilah saudaraku, kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta dari Allah kepada hambaNya yang beriman. Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan pelajaran terhadap ruhiyah kita, agar kita tersadar bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, manusia tidak dapat berbuat apa-apa tanpa seizinNya. Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang betul-betul berkorban untuk Allah. 

Untuk membuktikan cinta kita kepada Allah, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Pertama, iman yang kuat; kedua, ikhlas beramal, dan; ketiga, mempersiapkan kebaikan eksternal dan internal, yakni berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunnah. Juga yang terakhir, keempat, adalah tetap istiqamah dalam melaksanakannya. Insya Allah dengan itu akan bisa mengapai cinta dan keridhaanNya. Aamiin. Wallahu 'alam bish shawab. [Swadaya]....
penulis : Kamil Najmuddin

<--- Menebar Senyum Merajut Ukhuwah --->

Baca Selanjutnya....

tutorial